RED MY CLOUDY
PLEASE, USE YOUR BRAIN IF YOU GOT SOMETHING
Showing posts with label Plagiat Brain. Show all posts

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

Monday, May 24, 2010
Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis…
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,
maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.

Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).
oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar
untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,
sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi
staf-nya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,
dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
‘ meratap-ratap ‘ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford),
Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group).
Adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat S1), tapi kemudian menjadi kaya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.
Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??

KESIMPULAN :
Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
Kata kunci nya adalah ‘ resiko ‘ dan ‘ berusaha ‘ ,
karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil,
selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.
Dan mengabdi pada orang bodoh…

Diamanakah posisi anda saat ini…
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…

Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.
Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya,
Lalu perhatikan apa yang terjadi…


Stay Super….. (
By Mario Teguh )

Read On 2 comments

" Belajar Menghargai "

Monday, January 25, 2010

Umh... Pertama-tama gw perkenalkan dulu sahabat gw, Bayu Firman namanya. Dia adalah salah satu teman kampus gw, tapi sudah lama dia tidak meneruskan kuliahnya di kampus yg sama dengan gw.

Perjalanan ini terjadi tanpa perencanaan sedikitpun, hal ini bermula saat gw menerima telpon dari Malki.

Hari senin, 28 september 2009, kurang/lebih jam 6 pagi henpon gw berdering, membangunkan gw dari tidur. Dilayar henpon butut itu tertera bahwa yg menelpon adalah Malki.
Kring...kriiing...krrriiiiingggg....
Gw : Halooo.. *dengan nada suara baru bangun tidur*
Malki : Tadi Bayu telpon lu kgak?
Gw : Enggak tuh.. emang kenapa gitu? *dengan nada suara masih ngantuk*
Malki : Bokapnya meninggal tadi pagi jam setengah 3.
Gw : Innalillahi wainna illaihi rajiun... *langsung gak ngantuk lagi*
Malki : mau ngelayat gak lu? gw udah telpon si Thea, Ery, & Alfian, naik mobilnya si Alfian, terus dia mau kita berangkatnya pagi-pagi.
Gw : mau banget sih.. tapi lagi gak ada uang euy.. kemaren sore gw baru pulang dari bandung, cekak nih.
Malki : gw jg lagi gak ada uang cuy.. yaudahlah yg penting kita dateng aja dulu kesana buat ngelayat.
Gw : Ok deh.. kabarin gw aja lagi nanti ya!
Malki : iya...
Dan percakapanpun berakhir dengan ditutupnya telpon dari Malki. Gw pun langsung mandi & bersiap-siap untuk berangkat menuju sumedang, tapi sampai jam 9 belum ada kabar dari Malki.
Lalu sekitar jam setengah 10 Malki kembali menelpon gw.
Malki : kita naik kereta aja cuy.. mobil si Alfian lagi dibengkel.
Gw : Umh.. kira-kira mahal gak ya? gw bener-bener lagi cekak nih.
Malki : paling juga 15.000, jadi ikut gak lu?
Gw : jadi *dengan nada yg tegas*
Malki : yaudah berangkat sekarang kita ketemuan di depan palem.
Gw : Ok..
Dan gw pun menelpon si Ery untuk bisa bareng ke depan palem untuk berkumpul disana, sesampainya disana Ery langsung menitipkan motornya ditempat penitipan motor yg sudah tersedia disana.
Lalu 30 menit kemudian datanglah Malki & Anwar, dan tidak lama setelah itu datanglah Alfian.
Setelah semua berkumpul, kamipun mencoba mengajak teman-tema lainnya yg mungkin bisa ikut melayat ke sumedang, satu persatu teman-teman lainnya ditelpon, tapi tidak ada satupun yg bisa ikut pergi. Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung berangkat menuju stasiun kereta Senen.
Sesampainya disana kami mencari informasi tentang kereta tujuan Cirebon, kenapa ke Cirebon?
Karena rumah Bayu di Sumedang ujung dekat Kadipaten,jadi diambillah keputusan itu, dengan analogi jika kami naik kereta jurusan Bandung maka kami harus menempuh jarak yg lebih jauh jika dibandingkan kalau kami turun di stasiun Cirebon. Kami pun melihat dijadwal keberangkatan kereta kelas ekonomi tujuan Cirebon ada pada jam 3 sore, dan dibelilah tiket sebanyak 5 buah.

Dan kejadian bodohpun terjadi, ternyata dijadwal lainnya ada jadwal keberangkatan kereta kelas ekonomi tujuan Cirebon jam 12:50.
Malki pun bertanya "Gimana kalau kita beli tiket yg jam 12:50 aja?"
Anwar menjawab "Yaudah beli yg udah mau berangkat aja!"
Kami pun membeli kembali tiket kereta, karena kebodohan ini uang gw udah habis sebelum sampai tujuan. Kami langsung mengumpulkan sisa-sisa uang yg ada didompet maupun disaku masing-masing, dan didapat jumlahnya adalah kurang dari 150.000, padahal uang itu sudah dikumpulkan dari 5 orang lho.. hahahaha
Di stasiun Senen kami menunggu kedatangan kerera Gaya Baru dengan tujuan Cirebon, kami menunggu.. dan terus menunggu.. ternyata kereta yg dijadwalkan akan berangkat dari stasiun Senen jam 12:50, rangkaian kereta baru datang ke statisun Senen sekitar jam 3 sore. Inilah yg terjadi di negeri tercinta ini, keterlambatan itu hal yg biasa, sungguh hal yg sangat aneh menurut gw. Atau mungkin karena kereta yg akan kami tumpangi merupakan kelas ekonomi maka kereta tersebut akan berhenti hampir disetiap stasiun yg ada.
Tapi berungtungnya kami, karena isi kereta sangat mata sepi. Kami pun berada dalam satu gerbong yg sama tapi dengan tempat duduk yg berbeda, sepertinya gerbonng ini memang dikhususkan hanya untuk kami berlima.. hehehe
Didalam perjalanan kami pun merasakan perut yg kelaparan karena belum diisi dari pagi, namun dengan sangat terbatasnya uang yg kami miliki, kami hanya bisa melamun memikirkan makanan yg mungkin bisa menghilangkan rasa lapar.
Didalam kereta ada bapak penjual makanan & minuman, dia tidak berhenti bolak-balik menawarkan nasi goreng, kopi, & teh manis. Sepertinya si bapak tau kalau kami memang lapar, tapi apa daya uang hanya cukup untuk transport ke Sumedang.

Sekitar jam 9 malam kami pun tiba di stasiun Cirebon, ketika keluar dari stasiun kami disambut oleh banyak tukang becak & sopir angkot. Dari stasiun kami menuju terminal Cirebon untuk melanjutkan perjalanan ke Sumedang dengan naik angkot, dan sesampainya di terminal kami cukup terkejut dengan sang sopir yg minta bayaran cukup mahal, 5.000 untuk satu orangnya. Padahal uang yg tersisan hanya tinggal 100.000, dan itu pun kami belum mengisi perut yg kosong dari pagi. Tak lama kemudian datang seseorang yg mawarkan tiket bus tujuan Bandung, tapi bisa turun di Sumedang. Tapi kami sangat terkejut ketika dia menyebutkan bahwa tarif dari terminal Cirebon ke Sumedang itu harganya 55.000 untu satu orangnya, kami pun langsung meninggalkan orang itu, karena kami tau dia adalah Calo, tapi yg anehnya dia malah bilang begini "Hati-hati banyak calo disini, jangan sampe dibohongi Calo".
Sungguh aneh.. seperti maling teriak maling. Setelah kami pergi meninggalkan calo tersebut, kami pun langsung mencari WARTEG untuk mengisi perut, kami membatasi jumlah uang untuk makan hanya 25.000 untuk berlima. Dan kami berlima makan dengan menu yg sama, dengan hanya minum air putih yg diberi es. Meskipun begitu, itu sudah cukup untuk mengisi perut, kami pun kembali mencari bus tujuan Sumedang. Dan. akhirnya ada juga, meskipun dengan tarif 20.000 setiap orangnya, padahal uang kami hanya tinggal 50.000. Alhamdulillah... Malki masih punya uang 50.000 didompetnya, kami pun bergegas untuk naik bus tersebut.

Sesampainya di Sumedang kurang/lebih jam 22:30, Bayu sudah menunggu kami di depan gang rumahnya. Dia sudah menunggu kedatangan kami dari sore hari, Bayu pun meminta teman-temannya untuk mengantarkan kami dengan motor. Tapi ternyata Bayu mengajak kami untuk menginap di sebuah villa di Cipanas Sukawarna *kalau gak salah? lupa gw*, padahal tujuan kami datang ke sana adalah untuk ikut berduka cita atas meninggalnya ayahanda dari Bayu.
Bayu pun mengajak kami untuk berendam di kolam air hangat yg ada didalam komplek villa tersebut.
Ah.. rasanya rasa lelah sudah tidak ada lagi ketika gw berendam di kolam yg dihiasi sinar bulan & bintang-bitang yg ada dilangit yg cerah, tidak seperti di Jakarta bintangpun tidak terlihat, karena tingkat polusi yg tinggi. Setelah berendam di kolam air hangat, Bayu mengajak kami ke alun-alun Kota Sumedang. Jam 1 malam kami pun pergi menuju alun-alun Kota Sumedang dengan mengendarai motor, dalam perjalanan rasa dingin amat menusuk tubuh yg sudah lelah. Sesampainya di alun-alun kami hanya melihat-lihat sebentar karea sudah lelah dalam perjalanan menuju Sumedang, saat kami sedang duduk-duduk dipnggiran jalan, ada seorang bapak yg menanyakan alamat. Dia baru aja turun dari bus, dan si bapak pun bilang kalau itu pertama kalinya dia datang ke Sumedang, dia tidak tau harus kemana.
bayu pun mengajak si bapak tersebut untuk mencari alamat yg dituju, kebetulan alamatnya searah dengan kami. Ternyata dibalik sikap Bayu yg cuek ada sikap peduli yg begitu tulus untuk menolong orang lain yg sedang dalam kesulitan meskipun dirinya memang masih berduka.

Jam 2:30 malam kami sampai di villa tempat kami akan menginap, sesampainya disana gw, Ery, Malki, Anwar, & Bayu langsung tidur.
Paginya kurang/lebih jam 9 gw dibangunin sama Ery, memang si Ery ngajak pulang pagi-pagi karena dia mau pergi lagi ke Sukabumi bersama keluarganya. Setelah beres-beres kami meninggalkan villa menuju warung kopi terdekat untuk sarapan & minum kopi *maklum kurang tidur*.
Setalah jam 11 siang kami pun berpamitan dengan Bayu, sesampainya di stasiun Cirebon ternyata kereta kelas ekonomi hanya ada di stasiun Prujakan Cirebon *stasiun kecil di Cirebon* dengan sangat amat terbatasnya uang yg ada, kami pun memutuskan berjalan kaki menuju stasiun Prujakan.
Ah.. rasanya malas sekali berjalan kaki berkilometer jauhnya di siang hari, tapi yaa... tidak ada pilihan lain agar kami bisa pulang.
Setelah berjalan kaki cukup jauh, kami sampai di stasiun Prujakan. Disana setelah Malki & Anwar bertanya-tanya kepada petugas stasiun ternyata kereta kelas ekonomi hanya ada pada jam 11 malam, sedangkan kereta Cirebon Ekspres dengan kelas bisnis akan berangkat jam 3 & jam 5 sore.
Tapi uang kami tidak cukup untuk membeli tiket kereta kelas bisnis tersebut, Malki memutuskan "kita nunggu sampe jam 11 aja! abis mau gimana lagi? uangnya aja kurang."
Umh.. kalau memang kami naik kereta kelas ekonomi dengan jadwal keberangkatan jam 11 malam dari stasiun Prujakan maka kami akan sampai di stasiun Senen sekitar jam 3 pagi, itu juga kalau kereta tidak telat, ya namanya juga kelas ekonomi pasti telat karena harus berhenti hampir setiap stasiun untuk mendahulukan kereta-kereta kelas bisnis ataupun kelas eksekutif untuk lewat.

Dengan uang yg hanya tinggal sedikit kami pun mencari WARTEG untuk mengisi perut yg lapar, dan alhamdulillah ada seorang ibu yg baik, kami diperbolehkan makan dengan biaya 3.000 perorangnya.
itu juga setelah Malki & Anwar cerita sama si ibu yg punya warung nasi kalau kami kehabisan uang.
Bu.. semoga Allah membalas semua kebaikan ibu tehadap kami semua.. Amin..

Kami kembali ke statisun Prujakan, Ery masih berpikir untuk mencari no telpon temannya yg ada di Cirebon. Henpon Ery, Malki, Alfian, & Anwar sudah lowbatt semua, tapi henpon gw masih ada cukup batterainya untuk menelpon ataupun sms.
Ery pun meminjam henpon gw untuk menghubungi temannya dengan tujuan temannya dapat meminjamkan uang agar kami bisa pulang dengan naik kereta yg berangkat jam 5 sore.
Dan alhamdulillah... ada satu orang baik lagi yg menolong kami, temannya Ery yg bernama Andri pun datang ke stasiun Prujakan untuk mengantarkan subsidi kepada kami semua.. hehehehe..
Namun, di stasiun Prujakan kereta Cirebon Ekspres tidak berhenti untuk menaikkan penumpangnya, kami pun harus kembali lagi ke stasiun Cirebon. Sesampainya disana, kami langsung menuju loket pembelian tiket kereta Cirebon Ekspres dengan tujuan stasiun Gambir Jakarta.
Tidak lama kemudian kereta pun datang, tapi baru berangkat kurang/lebih jam 17:30. Tapi tak apalah, daripada kami harus menunggu 9 jam di stasiun Prujakan untuk meunggu kereta kelas ekonomi datang.
Dalam perjalanan semuanya tidur pulas.. meskipun perut sudah mulai lapar.. hehehehe

Selasa 29 september 2009, jam 10 malam. Akhirnya kami sampai di stasiun Gambir, tak lama kemudian henpon gw berdering, ternyata Thea yg menelpon, tak basa-basi kami pun langsung meminta kami untuk mejemput kami di stasiun Gambir, karena kami sudha kehabisan uang untuk bisa sampai Tangerang. Untung aja Thea menelpon disaat yg sangat tepat, dan akhirnya kami pun bisa pulang ke rumah masing-masing.

Ada tawa, ada canda, dan ada duka dalam perjalanan yg kami tempuh, semuanya begitu berwarna.
Ada pengalaman & hikmah yg bisa gw ambil dari perjalanan gw bersama Ery Firman Sanjaya, Malki Jaehanto, Alfian Ali, & Anwar Ilmar.
Gw bener-bener mendapatkan pengalaman yg sangat amat berharga dalam perjalanan tersebut, gw harus bisa menghargai uang, karena mencari uang tidak mudah dibutuhkan usaha & pikiran, tapi untuk menghamburkannya sangat mudah. Uang Rp. 3.000 untuk orang-orang kaya mungkin tidak ada harganya, tetapi uang sebesar itu bisa melanjutkan hidup bagi orang-orang yg kurang mampu, bisa untuk membeli makanan yg bisa menyambung hidup.
Dalam perjalanan yg gw jalani ini hikmah yg bisa gw ambil bukan hanya uang yg berharga dan kita harus bisa menghargai uang, tapi ada yg lebih berharga dari hanya sekedar uang, yaitu PERSAHABATAN dan KEKELUARGAAN. Dimana semua hal itu tidak bisa dibeli dengan uang, dan pengalaman ini gak akan bisa gw lupakan.
Terima kasih para sahabat, udah mau bersusah payah bersama, & menggembel bersama, gw bener-bener ngerasa'in bagaimana jadi orang susah, dimana kita memang gak boleh nyerah pada keadaan


( Tentang Teman'Q Yang Selalu Belajar Dalam Dunia Fhotograpy-nya. Terima Kasih "Adit/Chodot UIEU Ekonom 06". DO THE BEST BROTHA )
Read On 0 comments

" Peter dan Tina "

Monday, January 25, 2010
Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun,
hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik
bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi
waktu denganku."

Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua
saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "Baiklah.... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan
ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan
jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen
deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke
karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati
mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah
kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat
Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di
foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena
tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina
dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri,
langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka
duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan
suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan
melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan
kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam
hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu
menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang
tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear
untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.. Tina
penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya
mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu
meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi
karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan
berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya
pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan
mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.


15:20 pm
Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar."
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu
mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari
ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta
selalu macet.



15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu
adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.


23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih
bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan
surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia
segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi
terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan
erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat
dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.


Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang
hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh
malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi
kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur
hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat
meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya..
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99
hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku
kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.



" Dear Friends " ,
Tahukah anda* kalau orang yang kelihatan begitu tegar
hatinya, adalah orang
yang sangat lemah dan butuh pertolongan?

Tahukah anda* kalau orang yang menghabiskan waktunya
untuk melindungi
orang lain adalah justru orang yang sangat butuh
seseorang untuk
melindunginya?

Tahukah anda* kalau tiga hal yang paling sulit untuk
diungkapkan adalah :
Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku

Tahukah anda* kalau orang yang suka berpakaian *warna
merah* lebih yakin
kepada dirinya sendiri?
Tahukah anda * kalau orang yang suka berpakaian *hitam
*adalah orang yang
ingin tidak diperhatikan dan butuh bantuan dan
pengertian anda?

Tahukah anda * kalau anda menolong seseorang,
pertolongan tersebut
dikembalikan dua kali lipat?

Tahukah anda* bahwa lebih mudah mengatakan perasaan
anda dalam tulisan
dibandingkan mengatakan kepada seseorang secara
langsung? Tapi tahukah
anda bahwa hal tsb akan lebih bernil ai saat anda
mengatakannya dihadapan
orang tsb?

Tahukah anda* kalau anda memohon sesuatu dengan
keyakinan, keinginan anda
tsb pasti dikabulkan?

Tahukah anda* bahwa anda bisa mewujudkan impian anda,
spt jatuh cinta,
menjadi kaya, selalu sehat, jika anda memintanya dengan
keyakinan, dan
jika anda benar2 tahu, anda akan terkejut dengan apa
yang bisa anda
lakukan.

Tapi jangan percaya semua yang saya katakan* , sebelum
anda mencobanya
sendiri, jika anda tahu seseorang yang benar2 butuh
sesuatu yg saya
sebutkan diatas, dan anda tahu anda bisa menolongnya,
anda akan melihat
bahwa pertolongan tsb akan dikembalikan dua kali lipat.

Hari ini, *bola PERSAHABATAN * ada dilapangan anda,
kirim ini kepada orang
yang benar2 sahabat anda (termasuk saya jika saya juga
sahabat). Juga,
jangan merasa kecewa jika tidak ada seseorang yang
mengirimkannya
kembali kepada anda, anda akan mengetahui bahwa anda
akan tetap menjaga bola untuk
orang lainnya .... karena *lebih baik memberi daripada
menerima *bukan? =)

( From My Cousin " Ade Sovi/Nde' {Jakarta Lama Banget} )
Read On 0 comments

BINTANG PELEM {Cerpen}

Wednesday, September 09, 2009
Mak Ijah tekejut melihat kemunculan Paijo dengan dandanannya yang aduhai. Celana panjang putih bergaris-garis hitam dengan saku berhiasan paku-paku, mur, baut…?
Kemeja hitam, topi pet putih, juga sepatu booth putih.
Mata tuanya yang mulai labor berkolaborasi dengan bibir keriputnya yang membentuk huruf O gede, Mak Ijah mengamati Paijo dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tangannya sontak mengelus dada… “Alamaaak!” batin Maj Ijah menjerit kencang. “ Kenpa ada rantai anjing melilit leher anakku, heh?!”
“ PAIJOOOO… Apa-apaakai berdandan seperti Elvis Presley! Ku tau, semasa gadis, emak memang sangat mengidolakan laki-laki tampan itu. Tapi… Aaaakkhhh!!! Kau sungguh tak pntas mmngikuti caranya berdandan?!” Mak Ijah mere pet sambil melotot hingga biji matanya seperti mau keluar.
“ Kau…, Kau…, Masya Allah!! Baru beberapa bulan di Jakarta pun udah senget,” Mak Ijah makin histeris. Paijo terkekeh melihat ibu yang di cintainya lahir-batin marah-maranh. Sambil memamerkan giginya yang nggak bias menutup rapat Paijo berkata, “ Mami…, mami… kalo ketemu anak tuh sun dulu. Begitu tatacaranya.“
Tanpa menuggu reaksi Mak Ijah, Paijo langsung nyosor, memonyongkan bibirnya semaksimal mungkin dan mengecup pipi kana-kiri Mak Ijah.
“ PAIJOOO…, Apa-apan kau??? Aku ini Mak Kau!!!“
Mak Ijah benar-benar nggak than ngeliat kelakuan Paijo. Diambilnya sepotong kalu bakar be diameter paling gede yang semula hendak diangkutnya ke dapur untuk dipake menanak nasi. Dan…, Klepak! Klepuk! Kayu itu berkali-kali mendarat di paha Paijo.
“ Kau jangan macam-macam ya! Kau in besar karena dikasih ikan asin dan kangkung. Tak pantas kau memanggil emak dengan sebutan mami!!!!”
“ Aduh…, aduh…, Auw!! Mami jangan gitu dong…, Apa kata para artis teman gue kalo ngeliat gue masih di pukulin sama nyokapnya?!”
“ Apa kau bilang? Artis mana yang nengok kau, Paijo???” Mak Ijah masih menghardik.
Jengkel sekali perasaannya. Selama ini, kalo dirumah Paijo selalu membuat ulah. Itu sebabnya ketika paman Paijo berinisiatif membawanya ke Jakarta, Mak Ijah langsung sujud syukur.
“ Fuiiiih! Paijo…, Paijo…
Sebernanya anak ini rajin dan taat beribadah. Tapi, kelakuannya yang… Yaaah, begitu lah! Badan ceking, gigi super tonggos, muka penyok… Paijo yang sadari kecil diberi gelar giman (gigi mancung) oleh teman-teman juga tetangga-tetangganya tetap cuek dan pede. Malah, gelar giman udah di anggapnya sebagai bagian dari nama panjangnya: Paijo Giman.

- - - - -


Balik ke urusan Mak Ijah. Kalo emaknya bertempramental keras dan kasar, sikapnya abanya sangat contradictive. Abah Paijo sanagt arif dan bijaksana, sehingga disegani sebagai tokoh masyarakat.
“ Paijo, ke sini, nak. Kenapa kau tak beri kabar kalo mau pulang?” Pak Usman -gitu nama abah Paijo-
Menjulurkan kepala lewat jendela saat mendengar ribut-ribut di luar rumah.
“ Papi? Aduh, maf banget. Gue sibuk syuting tanggak siiih…??? Nah, karena sekarang pelemnya udah selesai digarap, makanya gue nyempetin deh mudik. Eh, nggak taunya mami payah! Mami masih aja nganggep Paijo sebagai anak udik,” bagai onta nemu oase, Paijo langsung curhat abis-abisan pada Pak Usman.
“ Hah? Papi?” Pak Usman garuk-garuk kepala
Nggak mau bikin keributan jilid dua, PakUsman berusaha menahan diri.
“ Naiklah ke sini, ceritakan pada abah kenapa kau jadi begini perlente. Kau benar-benar bikin abah pangling. “ Ck…, ck…, ck…”
Entah apa maksud perkataan Pak Usman terse but. Apakah dia benar-benar kagum dengan perubahan yang terjadi pada anak laki-laki slangy, atau hanya ingin menyenangkan hati anaknya yang baru pulang dari perantauan. Hanya dia dan tuhan yang tau jawabanya!
“ Baiklah Papi! Ceritanya…,” paijo megabit posisi pewe begitu udah duduk di depan pak Usman.
“ Panggil abah lah. Seperti biasa kau panggil aku dulu! Lebih enak rasanya di kupingku,” sela Pak Usman yangjuga mulai kegerahan seperti Mak Ijah.
“ Oke, no problem! Jadi gini, waktu nyampe Jakarta paman nyuruh gue ikut kasting di rumah produksi milik temannya. Terus nggak disangka gue keterima main pelem. Nggak tanggung-tanggung langsung dapet peran utama!” Paijo nyerocos penuh semangat.
“Hah??? Yang benar kau??? Akh, jangan banyak mengkhayal, nak. Tak baik! Nanati kau ditertawakan orang,” Pak Usman mulai khawatir dengan kesehatan mental anaknya.
Sementara itu, Mak Ijah rupanya udah naik kerumah panggung mereka. Di aberkata tepat di blekang Paijo, dan memberikan isyarat telunjuk yang dilintangkan ke atas kening. Mak Ijah mendesis, “ Anak kita kurang waras nampaknya.”
Untung Paijo nggak mendengar! Dia masih siuk dengan ceritanya pada abah tersayang.
“ Kalo nggak percaya, lihat nih foto-foto gue waktu syuting,” Paijo mengeluarkan sebuah album foto kecil.
Pak Usman dan Mak Ijah mengamati. Terlihat banyak pose anaknya bersama perempuan-perempuan cantik dan laki-laki ganteng teman anaknya tersebut berdandan sangat kota. Cume, nggak norak kayak anaknya!
“Mereka siapa? Abah tak kenal… Hey Nina, ayo kesini. Tengok abang kau pulang,” Pak Usman sontak memanggil anak bungsunya. Ketika melihat sekelabat batang hidung cewek yang mukanya jauh lebih lumayan entombing Paijo.
Nina mendekat. Kemudian, dalam hitungan detik menghambur ke dalam pelukan Paijo. Ya, humbugging abang-adek ini memang sangat dekat. Meski teman-temen dan tetangga-tetangganya sering meledek abangnya, di mata Nina, Paijo tetap seorang abang yang baik. Sekaligus, laki-laki yang bertanggung jawab.
“Lho? Foto siapa ini?” Nina Mengambil album foto dari tangan abah dan emak.
“Lho… Lho… Inikan Dian Sastro? Marcella Zaelanty? Trus, Tora Sudiro? Kok abang Paijo bias foto bareng mereka? Mereka kan bintang film papan atas!” Nina tebengong-bengong ngeliat foto banana.
“Apa kalo kita ke Jakarta pasti bias foto bareng mereka?“ Nina makin penasaran.
“Tuh kan… Papi-mami gak percaya sih! Nina aja ngenalin mereka,” Paijo menoleh ke arah Pak Usman dan emak ijah dengan tampang jumawa.
“Abang sekarang udah jadi bintang pelem,’Nin,’ Paijo berujar bangga.


- - - - -

Dalam waktu singkat, berita Paijo jadi bintang film tersiar ke seluruh pelasok kampung. Bahkan, teman-teman sekolah Nina heboh membicarakannya. Awalnya, banyak orang yang ngeliat foto-foto Paijo di lokasi syuting bareng bintang film-bintang film beken, mereka yakin dengan kebenaran berita itu. Makanya, album foto kecil milik Paijo ini mulai lecek karena di bawa bergantian oleh Nina, Mak Ijah, dan Pak Usman. Akhirnya, Mak Ijah dan Pak Usman begitu bangga dengan status baru Paijo…
Perubahan lain pun terasa. Sekarang nggak ada lagi yang memanggil Paijo Giman karena Mak Ijah udah mengadakan selametan. Seekor kambing dipotong untuk acara kenduri ganti nama! Yoi, sebagai bintang nama Paijo di anggap udah nggak cocok. Para pemuda dan pemudi turun rembuk menceritakan nama yang tepat buat Paijo. Dan, pilihan jatuh pada nama Galang Pramuja. Keren dan mantap!
Bukan cuma urusan nama yang berubah. Sikon di runah Paijo juga berbah. Rumah yang biasanya sunyi berubah selalu rame didatangi orang. Terutama, cewek-cewek! Hehehe…
Paijo…, eh, Galang cengar-cengir membubuhkan tantada tangannya yang di ukir seperti petiryan menyambar pada buku-buku notes cewek-cewek nan lucu dan imut itu.
Di lini lain, Mak Ijah dan Pak Usman (entah dapet bisikan dari mana), nggak bosen-bosen menasehati Galang, “kau harus jaga imej sebagai bintang!”
Maka, dengan oertimbangan jaga imej itu juga Galang Pramuja dilarang keras lalap pete dan rendang jengkol kesukaannya. Mak Ijah dan Pak Usman rela mengorbankan ayam peliharaannya atau ikan gurame dari kolam RT buat santapan anaknya yang sekarang jadi bintang.
Selain, larangan malan lalap pete dan rending jengkol, Galang Pramuja pun nggak diizinkan mandi di kali bersama teman-temanya.
“Panas matahari dan kali nggak baik untuk kesehatan kulitmu,” Mak Ijah menjelaskan.

- - - - -

Jarak antara kampung Galang Pramuja dengan kota kira-kira 60km. Bioskop hanya ada di kota. Dan, hari ini film yang Bermuda, Maafkan Papi, Anakku, dimana Galang katanya nongol sebagai pemeran utama, akan di putar perdana.
Keterlibatan Galang yang berlatar belakang pemuda kampung udah kayak promosi lisan dan film terse but. Nggak heran kalo pneumonia ngantri luar biasa.
Sebagai pemilik bioskap, Aseng tersenyum puas. Tiket sold out adalah sesuatu yang jarring terjadi akhir-akhir ini di bioscopy. Lembaran-lembaran brwarna merah sontak menari-menari di depan matanya!
Kemudian….
Eng… ing… eng… film perdana Galang Pramuja diputar! Memasuki bioskop tampak leher Galang di kalungi untaian bunga. Galang imbibing measuring VIP room oleh bebrapa orang berbadan tegap mirip centeng. Mak Ijah, Pak Usman, dan Nina manicotti dari belakang. Tampang mereka berubah sumringah, nggak mampu menyembunyikan rada bangga.
Film dimulai. Dalam adegan awal Galang undah muncul. Di layar tampak Galang terabit-cabik dimakan harimau. Sedangkan seorang laki-laki yan gmenjadi (tokoh papi), hanya bias berdiri lunglai. Nggak kuasa menekan laras senjata berburunya untuk menyelamatkan anaknya.
Film ini banyak moneyman misi psikologis. Seorang ayah yang sedikit derange jiwanya karena dikaruniai anak idiot. Pada setiap kesempatan berburu, dia selalu mengajak anaknya yang idiot itu sejak masih kecil. Kenapa? Karena jauh dilubuk hatinya, sang ayah sebenarnya menginginkan agar anaknya tewas dalam perjuring. Dan, keinginannya terkabul!! Namun, anaknya baru mrninggal diterkam harimau setelah dewasa.
Saat di layar muncul tulisan “TAMAT”, penonton kecewa. Nggak sepeti bayangan mereka, Galang hanya nongol pada adegan awal. Padahal Galang kan udah mengklaim dirinya,biasanya bakal nongol terus sampe filmnya abis.
Galang dengan tukas memberi alasan, “kalo nggak ada adegan anak yang mati di terkam harimau, apa mungkin jalinan ceritanya akin menarik?”
Read On 0 comments

B U N D A {Sebuah Cerpen}

Wednesday, August 12, 2009
Suara lenkingan roda kereta yang bergesekan dengan relnya memenuhi suasana siang di stasiun Gambir. Aku duduk di samping jendela pada salah satu gerbang. Terdengar suaara ketukan dari luar jedela tempatku duduk. Tapi,suara ketukan itu nggak membuatku menoleh!! Biarlah, aku sedang ingin bergelut dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada.
Lalu, ketukan itu semakin keras…
”Mas, ada yang manggil tuh,” ujar lelaki yang duduk di depanku sambil menunjuk ke arah jendela.
”biarin aja,” ujarku pelan sambil mengulas senyum kecil.
Aku hanya menoleh sedikit. Kulihat kakaku memintaku turun dari kereta. Tapi, aku udah memeantapkan diri untuk mengabaikannya! Untung kereta segera berangkat. Kalo nggak, tetntu bang doni akn naik ke kereta dan menyeretku turun dengan cara yang seperti biasa: agak kasar.
Suara lengkingan roda kereta yang bergesakan dengan relnya semakin kencang. Kereta pun bergerak semakin kencang. Kutolehkan kepalaku sakali lagi keluar jendela sekedar ingin melihat ekspresi muka Bang Doni. Terilihat jelas emosi yang menguasainya saat itu. Antara kaget bercampur kesal dengan sikap yang ku ambil.
Kereta belum terlalu jauh dari stasiun ketika ponselku berbunyi, tanda ada SMS yang masuk. Daribang doni!!!
"nggak seharusnya kamu melakukan hal itu!"
pikiranku kembali mundur ke beberapa jam yang lalu.


”Udah dong,bunda! Nggak usah nyuruh aku bawa macem-macem lagi. Disana juga banyak barang kok! Gilang nggak bohong!” ujarku pada Bunda.
”Tapi Bunda tau kamu gak punya guling di sana,” jawab Bunda.
”nggak ada guling juga nggak apa-apa. Kalu orang cape mah bisa tidur dimana aja tanpa perlu mikir bantal, guling......,” aku mencoba berargumen.
Nggak mempan! Bunda tetap aja menjejalkan guling ke carrier-ku.
”Salah kamu sih pengen kos! Emang kenapa seh kamu gak mau tinggal di rumah Tante Dewi aja?” tanya Bang Doni di depan pinu kamarku. Pasti seneng benget ngeliat aku beradu argumen dengan Bunda.
”Suka-suka dong! Ikut campur aja!”
semburku,sengit.
”lagian tempat kosku lebih deket ke sekolah. Jadi gak makan ongkos!” lanjutku sambil mencoba menarik keluar guling dari carrier. Mumpung bunda lagi keluar dari kamarku.
Bang Doni nggak menanggapi kata-kataku. Matanya memandang ke arah dapur. Sebuah senyum geli tiba-tiba menghiasi mukanya. Aku jadi penasaran! Ada ap ya?
Akhirnya, lima menit kemudian arti senyum Bang Doni aku ketahui. Bunda masuk lagi kedalam kamarku. Bunda membawa.........SETENGAH LUSIN PIRING, MANGKOK, SENDOK...... Aaaakh!!!
”Bawa ini. Biar kalo teman-teman gilang mapir ke kos nggak perlu bingung-bingung nyari wadah makanan,” bilang bunda, santai.
”Tapi Bunda.....”
”NGGAK ADA TAPI-TAPIAN! BAWA AJA!!!”
nada suara Bunda meninggi.
”Aduuuuh.... Bunda! Nggak usah deh.... Naik kereta Jakarta-Bandungtuh jalanya goyang-goyang melulu. Nanati kalo pada pecah di tengah jalan, gimana?” aku tetap harus menolak.
Abis , masak aku harus bawa barang-barang nggak penting kaya gini?! Baju, perlengkapan mandi, dan buku-buku aja udah bikin carrier-ku hampir gak bisa di tututp. Belum kue titipan untuk Tante Dewi, septu sekolah baru pemberian Bang Doni....
Lagi pula, bantal, guling, selimut, seprai, piring, gelas, dan sendok, udah tersedia lengkap di kosan yang akan kutinggali. Kalo pake acara tambahan dari rumah, buat apa? Meski bunda berkali-kali biang, ”suatu saat pasti itu ada gunanya,”, aku merasa buang-buang waktu dan tenaga membawanya ke Bandung. Aku nggak mau!


Muka Bunda terlihat muram. Tapi, aku berusa gak perduli. Tekadku udah bulat. Aku mau lepas dari bunda!
Ya, umurku memang masih 17 tahun. Di kelas baru yang akanku tempati di Bandung pun aku tergolong yang palingmuda. Di tempat kos yang akan kutinggali begitu juga. Aku adalah anak kos yang paling muda.
Fuiiiiiih! Aku memang selalu jadi anak bawang dimana saja. Di rumah, di sekolah.... Dan, aku benci akan hal itu! So, kalo kali ini aku tetap menuruti kata-kata bunda untuk membawa semua perlengkapan yang telah disiapkannya,kapan lagi aku punya waktu untuk membuktikan bahwa aku bisa mandiri?!
”Udahl, Bunda. Biarin aja! Biar si Gilang tau kalu di terlalu cepat 100 tahun utuk mencoba lepas dari dekapan bundanya tercinta,” Bang Doni angkat bicara.
Entah apa maksudnya. Menyindirku atau memanas-manasi Bunda?
”Hus! Jangan bilang begitu, Doni.... Bagus kalu gilang mau mandiri,” tetap membelaku. Tangannya masih aja cari celah-celah kosong di carrier-ku untuk menjejali piring, mangkok, dan sendok
”Rasain lo! Hehehehehe....,” tawa kemenangan ku pecah.
”Mending aku mau mandiri. Dari pada Bang Doni, udah gede masih aja deket-deket Bunda!”
”SIALAAAN!!! Gue masih diam dirumah ini karena kasian sama Bunda! Udah tua masih aja ngebiayain sekolah lo! Makanya punya inisiatif buat nyari duit sendiri dong, biar ga nyusain bunda terus!” seperti biasa amarah Bang Doni gampang tersulut.
Aku mencoba diam. Nggak mau bikin keributan dengan Bang Doni tambah parah. Pusinglah.... Jadi lebih banyak pikiran nanti! Lha, ini aja mikirin Bunda belum....
Hah? Kemana lagi Bunda? Apalagi nih yang di ambilnya?
Aku bergegas mengeluarkan piring, mangkok, dan sendok yang udah berhasil Bunda masukan dalam carrier. Buru-buru aku menutup carrier-ku sebelum Bunda datang membawa barang -barang yang lain.
Barang-barang yang lain? Yap. Dugaan ku gak meleset! Bunda udah nongol lagi di pintu kamarku sambil membawa lap meja, tempat bumbu lengkap dengan isinya, cairan pencuci piring, deterjen, dll. Tapi saat dia melihat piring , mangkok, dan sendok yang tadi udah dimasukannya udah aku keluarkan lagi.,secepat kilat dia membalikan badan. ’Duh, Bunda ngambek kali ya?
Ah, cuek! Sekarang mending aku ngurus soal perduitan yang mau dibawa!
Tiba-tiba....
”Gilang,” suara Bunda terdengar dari balik punggunggu.
Aku menoleh, sekarang Bunda menenteng tas kecil yang biasanya selalu dibawanya kalo berkunjung ke rumah Tante Dewi.
”Apa itu, Bunda?” tanyaku heran
”Didalam tas ini Bunda sudah siapin piring, mangkok, sendok, lap meja, tempat bumbu lengkap dengan isisnya, cairan pencuci piring, deterjen, dan lain-lain. Sabun sama odol untuk persiapan sebulan juga udah ada.” Bunda menerangkan sambil menyerahkan tas itu padaku.
”Hahahahaha.... Hahahaha....,” gantian Bang Doni tertawa penuh dengan kemenangan.
Cukup!!! Aku buru-buru menyambar jaket dan carrier-ku. Aku mrnyrnggol tubuh bunda yang ringkih. Bang Doni menyingkir. Mukanya menyiratkan sejuta tanda tanya. Bunda mengikuti ku dari belakang. Sebelum melangkah keluar rumah, aku balikan badan dan menatap tajam ke arah Bunda.
”JANGAN PIKIR GILANG MAU BAWA SEMUA ITU!!! GILANG BUKAN ANAK KECIL LAGI!!! GILANG BENCI BUNDA!!!”
”Gilang....” nada suara Bunda terdengar sedih dan kecewa.


”Bodohkah aku?” pertanyaan ini selalu terngiang di telingaku dari rumah menuju Bandung yang penuh adegan ketegangan tempo hari.
Seperti ada chemistry, di saat aku sedang merenungkan kejadian itu, mendadak sebuah SMS masuk.
< Bunda nggak tau mau gilang apa. Tapi Bundanggak bisa tidur mikirin gilang sedang benci Bunda>
Akh! Nggaaak.... aku nggak benci Bunda! Aku Cuma mau dianggap bisa mengurs diri sendiri. Aku mau mandiri!
Malam harinya Bang doni menelponku.
“Abang heran, kamu yang anak emas Bunda kok tega-teganya bikin bunda sedih begitu?!” sembur Bang Doni.
”Abis....,” aku mencoba mencari kata-kata untuk membela diri.
”Abis apa? ABIS APA, HEH?” suara Bang Doni Meninggi.
”Abang tau kamu bisa mengurus diri sendiri. Abang tau kamu udah gede. Tapi segede apapun sekarang, kamu tetap anak Bunda!! Cuma kita berdua yang Bunda punya. Hubungan ibu dan anak itu nggak mungkin ada kata putus! Beda antara ayah dengan Bunda yang bisa....,” suara Bang Doni tiba-tiba tercekat. Seketika dia menghntikan ceramahnya. Ada nada menyesal dalam kalimat selanjutnya.
”Pokoknya Abang nggak mau tau. Besok kamu harus udah baikan sama Bunda. Titik!” terikanya sebelum mematikan telponnya.
Rasa menyesal kini gantian menyusupi hatiku. Saat Bang Doni mematikan telponnya, jempol tangan kanan ku langsung gatel. Pengen banget rasanya menelpon Bunda. Tapi, gengsiku lebih besar. Kuurungkan niat itu, menungguhingga menelpon duluan yang menghubungiku.


Seminggu berlalu sejak percakapan dengan Bang Doni di telepon. Seminggu pula aku menahan diri untuk tidak menelpon Bunda duluan. Artinya, seminggu pula aku mengabaikan permintan Bang Doni. Sampe suatu pagi sebelum aku berangkat sekolah, Bang Doni mengirim sebuah SMS.
(cepet pulang kerumah! Jatung Bunda kumat lagi!
Namun pikiranku malah melayang. Aku nggak percaya! Pasti ini akal-akalan Bang Doni agar aku mau menemui Bunda dan meminta maaf. Aku cuek....
Siangnya sepulang sekolah, Bang Doni menelpon.
“kamu ada dimana? Emang naik apa sih? Naik bus ya? Emang macet gitu jalannya? Jam segini kok belum nyampe?! Bunda bilang pengen ketemu kamu,” serentetan kata keluar dari mulutnya Bang Doni.
Aku sedikit terhenyak. Tapi, rasa ragu masih terus menggelayuti....
Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya aku putuskan menuruti kata-kata Banag Doni: pulang ke Jakarta menemui Bunda. Kucoba menghubungi telepon rumah Tante Dewi untuk memberitahukan kabar Bunda sakit. Sayang, nggak ada yang angkat!
Aku berangkat ke Jakarta nai bus. Entah kenapa sepanjang perjalan aku tertawa geli. Aku membayangkan yang pura-pura sakit, tertawa melihat ekspresi kukaku yang khawatir.
Senyum geli itu terus mengikuti sampe di terminal bis Kampung Rambutan. Turun dari bus, aku memberhentikan taxi. Baru kuhempas pantat ini di bangku belakang taxi yang ku tumpangi, ponselku berbunyi. Tante Dewi?! Kuangkat. Tapi, belum lagi aku berkata, ”Hallo!”, suara isak Tante Dewi udah terdengar.
”Gilang nggak usah kerunah sakit. Langsung kerumah aja. Masih di Kampung Rambutan kan? Lebih cepat ke rumah jalannya. Kak Mira dimandikan di rumah kok,” bialng Tante Dewi pelan.
”DIMANDIKAN??? DI RUMAH???” aku teriak.
Aku langsung mengerti arti kata-kata Tante Dewi. Pikiranku sontak kosong selama beberapa detik. Kemudian, air mata mengalir begitu deras tanpa bisa kutahan. Namun, nggak ada suara isak yang keluar dari mulutku. Sebab, aku terlalu sibuk memikirkan hal yang lebih penting dai pada sekedar terisak. Ya. Sampe akhir hayatnya Bundamasih berpikir aku membencinya.
Read On 0 comments
Follow Gilang_UT on Twitter
Instagram

...::: I'm Cloudy :::...

If you dont like me...its not my problem, its YOURS.

We dont love the people we love because they're perfect, we love the people we love because THEY ARE

Happiness will never come to those who fail to appreciate what they already have

Whether you think that you can, or that you can't, you are usually right

Be nice to people on your way up because you meet them on your way down